Merajut Asa, Hidupi Keluarga Dengan Jualan Gorengan Keliling.

Sumbawa Barat. PublikOnline – Untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan keluarganya setiap hari, seorang Ibu di kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat Nusa Tenggara Barat rela berjualan keliling sambil menggendong anaknya yang berumur 2,5 tahun.

Adalah Rabania (25), warga lingkungan Kemutar Telu kelurahan Menala kecamatan Taliwang tersebut adalah warga tidak mampu atau warga miskin. Ia bersama suami dan kedua anaknya yang berumur 4 dan 2,5 tahun numpang tinggal di sebuah rumah kecil milik warga yang terbuat dari kayu berdindingkan anyaman bambu. Rabania memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya tinggal bersama neneknya di Sumbawa sementara anak kedua dan ketiga tinggal bersama dengannya.

Setiap hari Rabania menjejaki jalanan didalam kota Taliwang berjualan gorengan yang diambilnya dari penjual lain. Dari hasil jualannya, biasa Rabania mendapat upah Rp20 ribu hingga Rp40 ribu. Upah tersebut lantas digunakan untuk kebutuhannya setiap hari yaitu membeli susu anak, beras dan popok.

“Setiap hari saya mendapat Rp20 ribu sampai Rp40 ribu untuk beli susu dan popok anak saya. Suami saya hanya seorang buruh bangunan yang kerjaannya tidak menentu dengan penghasilan yang tidak menentu pula,” katanya saat ditemui di rumahnya, Rabu (11/12/2019).

Rabania setiap hari terpaksa berjualan sambil menggendong anak bungsunya. Ia terpaksa melakukan itu karena tidak ada yang menjaga anaknya di rumah. Bahkan anaknya yang kedua tidak ada yang menemani ketika Ia dan suami sama-sama kerja. Rabania mengaku Sang Suami sebenarnya tidak mengizinkan untuk berjualan tetapi Ia harus melakukannya demi memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya.

“Saya jualan setiap hari, anak saya tak ada yang menjaga, terpaksa saya bawa. Anak saya yang kedua sekolah di TK dekat rumah kalau dia pulang sekolah sering sendiri di rumah,” tuturnya.

Ketika orang melihat sepintas, Rabania terlihat sehat dan kuat berjualan keliling tetapi jika saja orang tau bahwa Rabania mengidap penyakit akut yaitu Gagal Ginjal atau CKD stadium 5. Sejak gadis Ia pernah dirawat karena gangguan pada ginjal hingga menikah penyakitnya semakin parah.

“Saya pernah dirawat di Rumah Sakit Asy-syifa pada 2018 lalu dan sampai dirujuk ke Mataram dengan bantuan BPJS miskin dan biaya pemerintah daerah tetapi tetap tidak mencukupi untuk pemeriksaan dan pengobatan secara lengkap. Setiap saya periksa ke rumah sakit pasti dokter menyuruh saya rujuk ke Mataram sementara kami tidak ada biaya.” Ungkapnya.

Dalam keadaan sakit Rabania tetap berjualan untuk membantu suami memenuhi ekonomi keluarga, terkadang rasa sakit akan penyakitnya datang di saat Ia berjualan tetapi Ia harus menahannya hingga jualannya habis.

“Saya berharap kepada pemerintah untuk membantu saya dan suami, kalau ada tempat tinggal atau tanah agar anak saya tidak terlantar kesana kemari, saya juga berharap pemerintah memberikan saya lapak dan modal usaha sehingga saya tidak berjualan keliling lagi, kasian anak-anak saya mas,” harapnya.

Sementara itu, Tini, pemilik rumah yang Ia tempati saat ini juga berharap kepada pemerintah agar dapat membantu Rabania dan keluarga sehingga mendapat tempat tinggal yang layak dan modal usaha serta tempat usaha.

“Menurut saya mereka sangat membutuhkan bantuan agar dapat memenuhi kebutuhan setiap hari serta tempat tinggal, karena selama ini mereka tinggal menumpang kesana kemari di tempat orang,” kata Tini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *